Kamis, 21 Juni 2012

Selamat pagi pak Petani



Kerbau dikepalaku ada yang suci

Kerbau dikepalamu senang bekerja

Kerbau disini teman petani
Kerbauku besar kerbauku seram

Tetapi ia bukan pemalas

Hidupnya sederhana
Kerbauku tetap kerbau

Kerbau petani yang senang bekerja
Kerbauku kerbau petani
Kerbauku teman petani
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca

Bayiku murni dan kosong

Ia ada di gorong gorong kota

Kerbauku kerbau petani

Ularku ular sanca

Bayiku bayi harimau

Ia ada di gorong gorong kota

                          









Minggu, 15 Januari 2012

Sebelum tenggelam



Abrasi pantai akibat kerusakan ekosistem laut di kawasan pesisir pantai utara Indramayu terus meluas. 
Dari 114 km garis pantai, kini kondisi pesisir pantai telah menggerus sejauh 45 km. Abrasi pantai yang terjadi ini cukup merata di kawasan Indramayu Timur hingga Barat. Bahkan, dari 114 kilometer garis pantai, 45 km di antaranya telah abrasi dan 11 km di antaranya dalam kondisi rawan atau kritis, selain mengalami abrasi, puluhan hektare hutan bakau di kawasan pantai Indramayu sebagian besar kini telah beralih fungsi menjadi kawasan tambak udang dan bandeng.
Abrasi dan pencemaran pantai merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh masyarakat.  Abrasi diakibatkan oleh naiknya permukaan air laut karena mencairnya lapisan es yang ada di daerah kutub bumi. Es tersebut mencair akibat terjadinya pemanasan global. Masalah abrasi maupun pencemaran lingkungan ini sangat sulit untuk diatasi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya. Masih banyak orang yang membuang sampah pada sembarang tempat yang nantinya dapat mencemari lingkungan. Dampak yang diakibatkanoleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam. Dampak dari abrasi dapat dikurangi dengan membangun alat pemecah ombak dan juga menanam pohon bakau di pinggir pantai. Alat pemecah ombak dapat menahan laju ombak dan memecahkan gelombang air sehingga kekuatan ombak saat mencapai bibir pantai akan berkurang. Demikian juga dengan pohon bakau yang ditanam di pinggiran pantai. Akar-akarnya yang kokoh dapat menahan kekuatan ombak agar tidak mengikis pantai.









Minggu, 06 Februari 2011

TUKANG TIRIS FROM THE LAND OF OIL








In the same day, 42 tank truck transporting crude oil in and out to fill in the door II Pertamina oil refinery around the area, Balongan, Indramayu, West Java. From there some people depend their life on the rest olive oil from tank truck that has been distributing oil to other areas in west Java. As gasoline and diesel fuel.

They could amass a drop in order to a drop and gasoline diesel tank truck and the rest of buyers were accommodated in and around the door filling oil. Search the rest oil started around 9 o'clock by day until the afternoon. Approximately 45 people from the village balongan to job seekers remaining petroleum (Tukang Tiris Minyak).

Buyers able to accommodate 20-30 liter of gasoline and diesel fuel-making result residents and the result will sell in for a whole. Each of them allocation relative depending on the results oil, average of 30 liters oil produced by, one people got Rp 13,000 per day

A leak done by the people to become a gardener because difficult work in the area around Pertamina oil refinery Balongan, Indramayu. It is difficult to use their land to farm and unsustainable forms, while for the trip, fear waste oil made the people refused to fishermen.
Whether or not legal for what they did, but to job seekers remains oil is the object life for them. That is looked for only a drop oil for life.


Minggu, 16 Januari 2011

WAITING FOR LOVE IN THE END AGE








Expression wrinkled radiated from the face of companions Kuriah 71 orphanage social tresna Werdha which is located in the village Balongan Indramayu Regency. She is with 35 other women go age has long inhabited orphanage that come from Indramayu Regency.
Kuriah is one of the citizens who eager to pursue their lives in in a nursing home. He was still able to undergo such a day-to-day without the help others like washing clothes and cooking food for the companions of other orphanage.


Most women who were in an orphanage, because their families. Either because family ties that began to discolor or because the process acculturation culture in Indonesia that love diminished influence among family percent's elder home ? That would not been a good place that is suitable for every person's parents spend rest of their lives. Where is love ? Is there any child who misses love for parents. And While they are only the love sat waiting for who knows when to come.


Kamis, 21 Oktober 2010









PERJUANGAN HINGGA AKHIR SENJA

Warjiman (60th) yang masih bertahan setelah 40 tahun menekuni profesinya sebagai pencari udang rebon, pria tua asal desa Dempet, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu ini setiap harinya harus menghadapi ombak pantai utara demi setumpuk udang rebon yang nantinya di jual untuk bahan baku terasi. hinnga larus malam, berrbekal jaring kecil dan lampu obor yang di letakkan di atas kepalanya ia harus menahan dinginnya hembusan angin malam di pantai Karang song. Ia mencari udang rebon hingga kedalaman 2 meter, sementara keselamatan jiwanya terabaikan.

Satu kilo udang rebon ia jual seharga Rp. 15.ooo pada penadah yang nantinya dibawa ke pabrik pembuatan terasi tradisional. Sementara Warjiman untuk mendapatkan 3 kilo udang rebon ia membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam, sejak jam 3 sore hingga 11 malam. itupun tergantung kondisi ombak, semakin besar ombak maka semakin banyak pula tangkapan udang rebon.

(..........................................................................................................................................................) #sample story#

Kamis, 30 September 2010

MENJEMPUT DOA UNTUK LELUHUR












Sebuah prosesi unik untuk menyampaikan rasa syukur atas apa yang diberikan sang pencipta juga
terhadap peninggalan sang leluhur. Ketika bulan syawal yang bertepatan dengan musim panen, hampir seluruh warga di beberapa kampung yang ada di Kecamatan Pasekan, kabupaten Indramayu, Jawa barat menggelar tradisi Unjungan atau juga disebut Ngunjung ke makam leluhur mereka. Secara harfiah Ngunjung merupakan tradisi ziarah dan doa bersama di makam sang pendahulu di bulan syawal.
Ngunjung lebih pada ziarah makam yang dilakukan bersama-sama dan diakhiri dengan doa bersama. Entah dari mana tradisi ini berasal, yang jelas masyarakat dengan sukarela mengumpulkan tumpeng untuk dibagikan saat selesai prosesi pembacaan doa yang dipimpin sesepuh desa itu.
Selain diisi dengan parade tumpeng yang dibawa oleh warga, hadir pula beberapa Meron atau replika perahu yang dihiasi dengan buah dan tumpeng serta kesenian Bleknong pun tak lupa mengiringi arak-arakan saat warga membawa tumpeng dari langgar desa menuju makam sang leluhur.
Beragam bentuk penyampaian rasa syukur dilakukan oleh masyarakat agraris yang masih memegang kuat tradisi dan budaya yang ditinggalkan. Semoga ini tetap menjadi kontinuitas yang ada pada masyarakat Indramayu sehingga tidak kehilangan identitasnya.

Minggu, 18 Juli 2010

evolusi dari bunyi ke identitas










Migrasi tarling dangdut, dari sekedar bunyi hingga populeritas
Sejak jaman dahulu, pesisir pantai utara sudah mempunyai selera tentang music, apalagi di kota Indramayu, di kota itu terlahir jenis music tradisional. Tarling, asal kata dari gitar dan suling sangat popular pada era 70an, dimana sinden menyanyikan syair panjang serupa scenario sinetron yang di iringi alunan gitar dan suling tanpa henti.
Seiring perkembangan dan minat pasar akan hiburan, tarling sudah banyak berevolusi, bukan hanya bentuk instrument musiknya saja, tapi secara keseluruhan tarling sudah berubah wujud menjadi Organ Tunggal atau yang lebih popular dengan istilah dangdut organ pantura. Music ini menurut beberapa budayawan dan seniman senior dapat dikategorikan pada seni tradisional, karena pada dasarnya organ tunggal berasal dari seni tarling yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa demi tuntutan para penikmatnya.
Hingga pada kenyataan sekarang organ tunggal sudah kental dengan penampilan para penyanyinya yang selalu tampil dengan goyangan erotis layaknya di club malam, bahkan ada beberapa pula yang menampilkan tarian ular. Sementara disisi lain , bukan hanya orang dewasa saja yang menikmati hiburan tersebut, tapi anak-anak juga tak bisa lepas, ketika penyanyi mulai menari dengan seekor ular piton dan meliuk di ujung panggung dimana anak-anak kecil pun turut menyaksikan pertunjukan itu. Seorang penyanyi organ tunggal dituntut harus bisa menari dan berani berpakaian mini, salah satunya Aan, wanita berusia 25 tahun ini berani mengambil resiko dari colekan tangan lelaki-lelaki yang ingin menari diatas panggung dengannya. Dalam satu kali pentas Aan mendapat bayaran Rp. 200.000, itu tidak termasuk saweran.
Issue yang berkembang akhir-akhir ini lebih menyudutkan para penyanyi organ tunggal ke persoalan “esek-esek”. Bagaimana tidak , dari penampilan saja para penyanyi organ tunggal sudah mengandung unsur-unsur yang menjurus ke sisi negative, ditambah mereka berloma-lomba untuk bias tampil se sexy mungkin demi mendapat uang sawer.
Tak dapat disangkal, hiburan semacam itulah yang memiliki rating paling atas dan menyisihkan kesenian-kesenian tradisional yang lainnya, karena banyak masyaraktat menganggap kesenian tradisional sudah sangat monoton, tidak atraktif, berbeda dengan organ tunggal yang selalu mencari metoda baru dalam penyajiannya.