Minggu, 16 Januari 2011

WAITING FOR LOVE IN THE END AGE








Expression wrinkled radiated from the face of companions Kuriah 71 orphanage social tresna Werdha which is located in the village Balongan Indramayu Regency. She is with 35 other women go age has long inhabited orphanage that come from Indramayu Regency.
Kuriah is one of the citizens who eager to pursue their lives in in a nursing home. He was still able to undergo such a day-to-day without the help others like washing clothes and cooking food for the companions of other orphanage.


Most women who were in an orphanage, because their families. Either because family ties that began to discolor or because the process acculturation culture in Indonesia that love diminished influence among family percent's elder home ? That would not been a good place that is suitable for every person's parents spend rest of their lives. Where is love ? Is there any child who misses love for parents. And While they are only the love sat waiting for who knows when to come.


Kamis, 21 Oktober 2010









PERJUANGAN HINGGA AKHIR SENJA

Warjiman (60th) yang masih bertahan setelah 40 tahun menekuni profesinya sebagai pencari udang rebon, pria tua asal desa Dempet, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu ini setiap harinya harus menghadapi ombak pantai utara demi setumpuk udang rebon yang nantinya di jual untuk bahan baku terasi. hinnga larus malam, berrbekal jaring kecil dan lampu obor yang di letakkan di atas kepalanya ia harus menahan dinginnya hembusan angin malam di pantai Karang song. Ia mencari udang rebon hingga kedalaman 2 meter, sementara keselamatan jiwanya terabaikan.

Satu kilo udang rebon ia jual seharga Rp. 15.ooo pada penadah yang nantinya dibawa ke pabrik pembuatan terasi tradisional. Sementara Warjiman untuk mendapatkan 3 kilo udang rebon ia membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam, sejak jam 3 sore hingga 11 malam. itupun tergantung kondisi ombak, semakin besar ombak maka semakin banyak pula tangkapan udang rebon.

(..........................................................................................................................................................) #sample story#

Kamis, 30 September 2010

MENJEMPUT DOA UNTUK LELUHUR












Sebuah prosesi unik untuk menyampaikan rasa syukur atas apa yang diberikan sang pencipta juga
terhadap peninggalan sang leluhur. Ketika bulan syawal yang bertepatan dengan musim panen, hampir seluruh warga di beberapa kampung yang ada di Kecamatan Pasekan, kabupaten Indramayu, Jawa barat menggelar tradisi Unjungan atau juga disebut Ngunjung ke makam leluhur mereka. Secara harfiah Ngunjung merupakan tradisi ziarah dan doa bersama di makam sang pendahulu di bulan syawal.
Ngunjung lebih pada ziarah makam yang dilakukan bersama-sama dan diakhiri dengan doa bersama. Entah dari mana tradisi ini berasal, yang jelas masyarakat dengan sukarela mengumpulkan tumpeng untuk dibagikan saat selesai prosesi pembacaan doa yang dipimpin sesepuh desa itu.
Selain diisi dengan parade tumpeng yang dibawa oleh warga, hadir pula beberapa Meron atau replika perahu yang dihiasi dengan buah dan tumpeng serta kesenian Bleknong pun tak lupa mengiringi arak-arakan saat warga membawa tumpeng dari langgar desa menuju makam sang leluhur.
Beragam bentuk penyampaian rasa syukur dilakukan oleh masyarakat agraris yang masih memegang kuat tradisi dan budaya yang ditinggalkan. Semoga ini tetap menjadi kontinuitas yang ada pada masyarakat Indramayu sehingga tidak kehilangan identitasnya.

Minggu, 18 Juli 2010

evolusi dari bunyi ke identitas










Migrasi tarling dangdut, dari sekedar bunyi hingga populeritas
Sejak jaman dahulu, pesisir pantai utara sudah mempunyai selera tentang music, apalagi di kota Indramayu, di kota itu terlahir jenis music tradisional. Tarling, asal kata dari gitar dan suling sangat popular pada era 70an, dimana sinden menyanyikan syair panjang serupa scenario sinetron yang di iringi alunan gitar dan suling tanpa henti.
Seiring perkembangan dan minat pasar akan hiburan, tarling sudah banyak berevolusi, bukan hanya bentuk instrument musiknya saja, tapi secara keseluruhan tarling sudah berubah wujud menjadi Organ Tunggal atau yang lebih popular dengan istilah dangdut organ pantura. Music ini menurut beberapa budayawan dan seniman senior dapat dikategorikan pada seni tradisional, karena pada dasarnya organ tunggal berasal dari seni tarling yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa demi tuntutan para penikmatnya.
Hingga pada kenyataan sekarang organ tunggal sudah kental dengan penampilan para penyanyinya yang selalu tampil dengan goyangan erotis layaknya di club malam, bahkan ada beberapa pula yang menampilkan tarian ular. Sementara disisi lain , bukan hanya orang dewasa saja yang menikmati hiburan tersebut, tapi anak-anak juga tak bisa lepas, ketika penyanyi mulai menari dengan seekor ular piton dan meliuk di ujung panggung dimana anak-anak kecil pun turut menyaksikan pertunjukan itu. Seorang penyanyi organ tunggal dituntut harus bisa menari dan berani berpakaian mini, salah satunya Aan, wanita berusia 25 tahun ini berani mengambil resiko dari colekan tangan lelaki-lelaki yang ingin menari diatas panggung dengannya. Dalam satu kali pentas Aan mendapat bayaran Rp. 200.000, itu tidak termasuk saweran.
Issue yang berkembang akhir-akhir ini lebih menyudutkan para penyanyi organ tunggal ke persoalan “esek-esek”. Bagaimana tidak , dari penampilan saja para penyanyi organ tunggal sudah mengandung unsur-unsur yang menjurus ke sisi negative, ditambah mereka berloma-lomba untuk bias tampil se sexy mungkin demi mendapat uang sawer.
Tak dapat disangkal, hiburan semacam itulah yang memiliki rating paling atas dan menyisihkan kesenian-kesenian tradisional yang lainnya, karena banyak masyaraktat menganggap kesenian tradisional sudah sangat monoton, tidak atraktif, berbeda dengan organ tunggal yang selalu mencari metoda baru dalam penyajiannya.

Kamis, 24 Juni 2010

Pengelana yang telah pulang









A feature showing images of Carpan, who was born in a village in Indramayu district, and who began to dance using traditional masks from a very early age. Indramayu, Indonesia. 31/12/2009.
Carpan, was born in the village of the district Filled Cibereng Indramayu, west java, Indonesia began to dance mask dance since he was young. Gentle movement of the distinguished mask dances with another mask. Until that stunned many when he began moving his fingers where he began his dance mask.
Dance mask of Carpan only be enjoyed during a ceremony at the district Ngarot Lelea, because he did not dance for another event.
Another uniqueness of the mask dance is the duration of the barracks Carpan for her danced. In presenting the dance he danced at least seven hours, and without stopping. If he was asked to dance in an event that did not specify the duration he did not accept the offer of a gig. It is said that when he was young he had to dance day and night.
He just wanted to dance with a minimum duration of 7 hours. Whether the underlying reason. But clearly, it is a condition when she had to dance.
Dance masks also philosophically and psychologically in order teach us to have a pure soul (such as mask dance Bannerman), optimistic and confident (Rumyang mask dance), tough and strong (Tumenggung masks) and we expected to avoid the ways of thinking and acting emotionally (like a mask Klana and Pamindo), also avoiding the nature of greed and wrath (Klana masks and Ravana).
Now the age of starting to reduce doses of dance, over time, also the fans forget Carpan. No one can dance like him.